Jumat, 09 September 2016

4 Tips ngerjain Skripsi cepet selesei



1.      Nggak usah yang Perfect-Perfect
Menurut gue kalau mau cepet skripsi ya ngga usah yang Perfect-perfect amat gitu bikinya. Yang pentingkan nggak plagiasi alias nyontek. Bukan maksud mendiskreditkan kamu-kamu yang pengen skripsinya mantab, tapi kadang ada juga orang yang perfeksionisnya kebangetan sampe-sampe rela nunggu waktu lama demi skripsi yang sempurna, mencoba dengan sekuat tenaga, itu boleh. harus malahan. Tapi daripada kelamaan dan nggak kesampean mending yang sedang-sedang saja lah. Kan katanya satu hari menunda skripsi satu hari menunda pernikahan, heheh.
2.      Mengingat
Mengingat kalau waktu itu tidak bisa diulang, mengingat kalau umur kalian itu terus nambah dan mengingat kalau skripsi itu dikerjain bukan dilamunin. Sebenernya skripsi itu ngga butuh kalian bawa cepet, nggak butuh pelatihan khusus buat ngehandle nya, nggak butuh kendaraan mewah ‘’ IPK ‘’ buat bawa dia ke tangga wisuda,  tapi dia cuma butuh langkah kaki sederhana lu buat bawa dia ke tempat yang nyaman, lu ajak ngobrol dia, lu kerjain dan  tengok tiap hari. Nggak harus 24 jam full lu ama dia, cukup sisain 1-2 jam aja. Ingetloh 1-2 jam, bukan harus 2 jam yah !!!.  abis itu terserah deh mau ngapain, yang penting besoknya sisain 1-2 jam lagi buat dia. Kalo cewek butuh kepastian, nah skripsi butuh ketergantungan. Ketergantungan lu ama dia.
3.      Jangan Nunggu mood
Jangan nunggu mood yah, soalnya mood juga nunggu kalian. Jadinya sama-sama nunggu deh. Mana bakal ketemu, ya gak?. Kalo bahasa kerenya sih harus keluar dari Comfort Zone. Paksain, mood-in diri lu dalam keadaan apapun. Boleh sehari atau dua hari nggak mikirin skripsi dulu, tapi inget itu cuma sementara aja yah. Gak usah keterusan. Yaaaa sekedar intermezo lah. Habis itu ya Nyekrip lagi.
4.      Laksanakan 3 tips di atas gaes. see you with your Toga...

Minggu, 04 September 2016

Banten Refting Ciberang



Gajrug, Lebak – banten dikenal dengan daerah yang sepi karena letaknya yang secara geografis jauh dari keramaian kota dan hiruk-pikuknya. Buktinya jika seseorang mendengar kota ‘’ Gajrug ‘’ yang teringat hanya 3 kata, yatu jauh, sepi dan memabukkan. Bagaimana tidak ‘’ memabukkan’’ rute yang ditempuh memang mudah, cukup satu arah tapi butuh kesabaran dan niat yang kuat untuk sampai ke daerah tersebut. Siapa sangka siapa nyana di tengah-tengah keheningan alam, ditengah-tengah mindset masyarakat yang menyebutkan daerah Gajrug jauh dari Pesona keindahan alam justru menghadirkan sejuta warna cerita yang saya sendiri bingung bagaimana menggambarkan keindahan itu jika hanya lewat sebuah tulisan. Kalau saja pintu doraemon itu nyata mungkin akan saya kunjungi satu persatu para pembaca untuk saya ceritakan secara detail dan saya ekspresikan ulang bagaimana terkejut dan bahagianya saya saat itu. heheheh   
Awalnya saya juga belum tahu persis tentang tempat ini hanya sekedarnya dan sering mendengar namanya saja dari mulut ke mulut. Tapi sejak hari itu tempat ini justru memiliki kenangan tersendiri dalam memori terdalam saya.
 ‘’ jam 08.00 kumpul di alun-alun Pandeglang yah ‘’ itu kalimat yang saya masih ingat betul di malam sebelum hari itu, saat menentukan waktu keberangkatan ke Cipanas bersama teman-teman terbaik saya. Dan setelah itu hilang tidak ada kabar, ternyata  jauh dari prediksi beberapa teman masih ada yang berkendala macet karena memang rumahnya yang berbeda kota diantara kami ber-lima. Niat hati berangkat sepagi mungkin untuk menghindari macet malah nganter nyawa ikut nikmatin macet karena kesiangan.  Tanpa pikir panjang kami ber-lima dan beberapa kerabat berangkat pukul 11.00 dari Kota Rangkasbitung.
‘’ ini bener nih kita ke Cipanas udah siang gini, tau sendiri jalanya gimana ‘’
‘’ nyampe kok nyampe selow aja ‘’
Diskusi kecil sempat menemani perjalanan kami tapi kami tetap kembali ke niat awal kami untuk tetap berangkat. Tapi percaya nggak percaya waktu itu saya belum ‘’engeuh ‘’ kalau tempat yang dituju adalah daerah Cipanas sampai lewat daerah pasar Gajrug. Walhasil jalan yang berkelok-kelok ( saya bingung menggambarkannya seperti apa lewat kalimat ) yang jelas jalanya berkelok full sampai tempat tujuan. Biasanya pengendara sepeda motor anti dengan mabok, tapi tidak bagi saya. Hehehe. Akhirnya di tengah jalan sedikit menarik napas dan tuker posisi jadi penumpang dulu.
Banten Refting Ciberang mengikuti kejuaraan DUNIA. Sebuah banner berukuran besar menyambut kedatangan kami. Rasanya lelah dan jauhnya perjalanan ini terobati sesampainya di sana. Alran sungai yang deras membelah bebatuan sungai siap jadi teman kami refting. Gemercik air gunung nan asri siap basahi semangat libur lebaran kami di hari itu. Satu orang dikenakan biaya sekitar 150-250 ribu + snack+ kelapa muda dan juga bahan bakar perut alias makan. Jadi recomended banget buat para pembaca yang seneng nge-trip berbudget kejepit, hehehe.
Tempatnya menantang, seru dan yang pasti bersahabat banget sama alam. Perjalanan panjang dan mabok-mabokannya terbayar deh pokoknya. Oh iya satu lagi ...kita bisa teriak-teriak bareng disana. Teriak se-kenceng-kenengnya, se-gila-gilanya deh.
See you there ya Readers... 




Dari Stand Up Comedy ke Film Indonesia


Fenomena !!! beberapa tahun ini industri perfilman Indonesia tidak lepas dari wajah-wajah baru yang justru lahir dari dunia komedi. Stand Up Comedy, jenis komedi tunggal ini kian lama kian merajai industri hiburan tanah air. Gaya komedi yang cerdas menjadi cikal bakal lahirnya para Komika canggih di negeri ini. Komika istilah yang disematkan bagi mereka para Stand Up Komedian. Jika inti dari komedi adalah tertawa, maka Stand Up Comedy lebih dari itu. Jika tawa jadi penentu, maka stand up comedy jadi pembeda.
Sebut saja film Single. Film besutan Raditya Dhika salah satu pentolan Stand Up Comedy di Indonesia ini berhasil menembus Box Office Film tanah air dan mampu menjadikan film komedi memiliki tempat tersendiri di hati para pecinta film tanah air. Belum lagi Babe Cabita yang juga lahir dari Stand Up Comedy yang mampu bersaing dengan aktor-aktor tampan lainnya, bahkan sempat menjadi salah satu nominator Pemeran Utama Pria terbaik di ajang Indonesian Box Office Movie Awards 2016. Satu lagi, Ernest Prakasa juga menjadi peraih Penulis Skenario terbaik di ajang itu lewat filmnya yang berjudul Ngenest the Movie.   
Tidak berhenti di situ, saat ini salah satu stasiun televisi juga sedang mengadakan kompetisi Stand Up Comedy yang bertajuk Stand Up Comedy Academy. Sampai hari ini tidak sedikit dari mereka yang bahkan belum menyelesaikan kompetisi tapi sudah dilirik oleh beberapa sutradara untuk ikut andil di film yang sedang mereka produksi, sebut saja Fachry dari Pare-Pare dan Arafah yang sudah berhasil mencuri perhatian Raditya Dhika dan Ernest Prakasa. Sebentar lagi kompetisi itu akan mencapai puncaknya, kira-kira siapa yang akan menjadi Rising Star selanjutnya dan menjadi Pesaing baru aktor tampan dan aktris cantik yang sudah melalalng buana di industri perfilman indonesia ?, kita tunggu saja.