Gajrug, Lebak – banten dikenal dengan daerah yang sepi karena
letaknya yang secara geografis jauh dari keramaian kota dan hiruk-pikuknya.
Buktinya jika seseorang mendengar kota ‘’ Gajrug ‘’ yang teringat hanya 3 kata,
yatu jauh, sepi dan memabukkan. Bagaimana tidak ‘’ memabukkan’’ rute
yang ditempuh memang mudah, cukup satu arah tapi butuh kesabaran dan niat yang
kuat untuk sampai ke daerah tersebut. Siapa sangka siapa nyana di tengah-tengah
keheningan alam, ditengah-tengah mindset masyarakat yang menyebutkan
daerah Gajrug jauh dari Pesona keindahan alam justru menghadirkan sejuta
warna cerita yang saya sendiri bingung bagaimana menggambarkan keindahan itu
jika hanya lewat sebuah tulisan. Kalau saja pintu doraemon itu nyata mungkin
akan saya kunjungi satu persatu para pembaca untuk saya ceritakan secara detail
dan saya ekspresikan ulang bagaimana terkejut dan bahagianya saya saat itu. heheheh
Awalnya saya juga belum tahu persis tentang tempat ini hanya
sekedarnya dan sering mendengar namanya saja dari mulut ke mulut. Tapi sejak
hari itu tempat ini justru memiliki kenangan tersendiri dalam memori terdalam
saya.
‘’ jam 08.00 kumpul di
alun-alun Pandeglang yah ‘’ itu kalimat yang saya masih ingat betul di malam
sebelum hari itu, saat menentukan waktu keberangkatan ke Cipanas bersama
teman-teman terbaik saya. Dan setelah itu hilang tidak ada kabar, ternyata jauh dari prediksi beberapa teman masih ada
yang berkendala macet karena memang rumahnya yang berbeda kota diantara kami
ber-lima. Niat hati berangkat sepagi mungkin untuk menghindari macet malah nganter
nyawa ikut nikmatin macet karena kesiangan. Tanpa pikir panjang kami ber-lima dan beberapa
kerabat berangkat pukul 11.00 dari Kota Rangkasbitung.
‘’ ini bener nih kita ke Cipanas udah siang gini, tau sendiri
jalanya gimana ‘’
‘’ nyampe kok nyampe selow aja ‘’
Diskusi kecil sempat menemani perjalanan kami tapi kami tetap kembali
ke niat awal kami untuk tetap berangkat. Tapi percaya nggak percaya waktu itu
saya belum ‘’engeuh ‘’ kalau tempat yang dituju adalah daerah Cipanas
sampai lewat daerah pasar Gajrug. Walhasil jalan yang berkelok-kelok ( saya
bingung menggambarkannya seperti apa lewat kalimat ) yang jelas jalanya
berkelok full sampai tempat tujuan. Biasanya pengendara sepeda motor anti
dengan mabok, tapi tidak bagi saya. Hehehe. Akhirnya di tengah jalan sedikit
menarik napas dan tuker posisi jadi penumpang dulu.
Banten Refting Ciberang mengikuti kejuaraan DUNIA. Sebuah
banner berukuran besar menyambut kedatangan kami. Rasanya lelah dan jauhnya
perjalanan ini terobati sesampainya di sana. Alran sungai yang deras membelah
bebatuan sungai siap jadi teman kami refting. Gemercik air gunung nan asri siap
basahi semangat libur lebaran kami di hari itu. Satu orang dikenakan biaya
sekitar 150-250 ribu + snack+ kelapa muda dan juga bahan bakar perut alias
makan. Jadi recomended banget buat para pembaca yang seneng nge-trip berbudget
kejepit, hehehe.
Tempatnya menantang, seru dan yang pasti bersahabat banget sama
alam. Perjalanan panjang dan mabok-mabokannya terbayar deh pokoknya. Oh iya
satu lagi ...kita bisa teriak-teriak bareng disana. Teriak
se-kenceng-kenengnya, se-gila-gilanya deh.
See you there ya Readers...

